JEMBATAN
Soetardji Calzoum Bachri
Sedalam-dalam sajak tak kan mampu menampung air
mata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam
basa basi dalam teduh pakewuh dalam kilah dan isyarat
tanpa makna
Maka aku pun pergi menatap pada wajah orang berjuta
Wajah orang jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh
sesak bus kota
Wajah orang tergusur
Wajah para muda yang matanya letih menyimak daftar
lowongan kerja
Wajah yang tercabik dalam pengap pabrik
Wajah legam para pemulung yang memungut remah-
remah pembangunan
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton
etalase indah di berbagai plasa
Wajah yang diam-diam menjerit, melengking, melolong
dan mengucap:
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa kini ada
sesuatu yang terasa jauh beda di antara kita
Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan tumbuh
kokoh merentangi semua sungai dan lembah yang ada,
tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di
antara kita?
Di lembah-lembah kusam pada pucuk bulan gersang
dan otot linu mengerang mereka pancangkan koyak moyak
bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara
Gerimis tak mampu mengucapkan kibarannya. Lalu
tanpa tangis mereka menyanyi:
padamu negeri
air mata kami
1993